[FF FICLET] On Rainy Days

Title : On Rainy Days

Author : @Meeta1513

Genre : Romance,Angst

Cast :

-Zhang Yixing/Lay (EXO)

-Aku (Pembaca)

Length : Ficlet (1984 Words)

Disclaimer: ‘Aku’ disini adalah siapapun yang membaca.Anggap aja baca diary hidup sendiri muehehe.Semuanya murni keisengan belaka.Yixing milik tuhan dan milik istri masa depannya kelak,jadi tolong mundur teratur(?)

 

Aku menyesap bubble tea terakhirku sebelum membuang botol plastik itu ke dalam tong besar di pinggir jalan.Aku melihat ke jalanan yang basah akibat hujan lebat yang sepertinya baru saja berhenti,kemudian melirik jam tanganku sekilas.Aku yakin sekitar 5 menit lagi mobil itu tiba.

Dan benar saja,bahkan tidak sampai 5 menit sebuah mobil audi berwarna silver sudah berhenti di depanku.Sang pemilik mobil menurunkan kaca dan tersenyum,membuatku segera membuka pintu mobil dan sekejap masuk kedalamnya.

“Sudah lama menunggu?”

Aku menggeleng seraya tersenyum.”Aku baru keluar.” Jawabku,kemudian memasang safety belt.

“Lalu sekarang kau mau kemana?”

Aku berfikir sebentar,kemudian meliriknya tanpa jawaban.”Terserah kau saja.” Ujarku sekenanya.Entah kenapa aku sedang tidak dalam perasaan ingin pergi kemanapun .

“Baiklah,kita berjalan-jalan saja.” Ia menjalankan mobilnya,menyisakan decitan pelan dari ban mobil yang tergesek aspal basah.

Aku termenung menatap keluar jendela.Ada bekas rintikan titik-titik air hujan di kaca jendela yang berembun itu.Tanganku bergerak menyentuhnya,mengukir huruf di balik uap embun tersebut.

“YIXING”

Tulisku disana.Aku menghela nafas pelan,kemudian menyandarkan tubuhku dikursi dan memejamkan mataku perlahan.

“Kau terlihat sedang gelisah.” Tanya pria yang sedang menyetir itu.Dia Yixing,kekasihku.satu-satunya pria yang paling bisa kupercaya setelah ayahku.Satu-satunya pria yang aku ingin hidup bersama setelah ayahku.Pria jujur yang polos dan bahkan tidak pernah menyembunyikan apapun dariku.Ia tampan,tinggi dan sangat manis.

Aku meliriknya kemudian menggeleng pelan.”Tidak,aku hanya sedikit berpikir saja.” Jawabku enteng kemudian membuang wajahku ke arah jendela.Ia tidak bertanya lagi setelah itu.Dia memiliki sifat seperti itu,sifat dimana ia tidak akan bertanya lagi jika orang yang ditanyai terlihat enggan berbicara.Karena itu aku tahu sekarang ia sedang menungguku berbicara.

“Aku…hanya berfikir tentang mimpi semalam.” Ujarku pelan ditengah keheningan.Aku tahu ia melirikku sekarang,sepertinya hendak bertanya.

“Jangan terlalu dipikirkan,itu hanya mimpi.” Aku salah.Dia tidak bertanya.

Ia kembali fokus pada jalanan didepan,sedangkan aku masih tidak bisa melupakan mimpi tersebut.Aku melihatnya dari samping,melihat wajahnya yang terukir tegas.

“Benar,itu hanya mimpi.” Ucapku pada diriku sendiri kemudian kembali membuang wajah ke arah jendela.

“Kau tidak biasanya membicarakan mimpi.” Aku merasakan tangannya menggenggam tangan kiriku sekarang,meremasnya kemudian melepaskannya.Ia terlihat sedikit khawatir,tapi kemudian segera menutupinya dengan kembali melihat ke depan.

“Mungkin aku hanya berlebihan.” Jawabku sambil menutup kedua wajahku dengan tangan,kemudian menarik nafas lagi.Aku tersenyum melihatnya mengangguk.

“Ah iya~Apa kau sudah mencoba gaunnya?” tanyanya kemudian,memecah keheningan.

Aku mengangguk.“Sudah dan sangat bagus.Ibu bahkan menangis melihatku mengenakannya.” Aku tersenyum bahagia membayangkan 2 hari yang lalu saat aku mencoba gaun yang akan aku kenakan di pesta pertunangan kami nanti dan melihat diriku sendiri berkutat di cermin,memantulkan bayangan yang diidamkan oleh semua wanita didunia.Seorang wanita dengan gaun yang akan mengantarnya pada lelaki yang dipilihkan tuhan untuk hidupnya.

Dan ya..bulan depan kami berencana melaksanakan pertunangan itu.Sebenarnya aku ingin langsung menikah saja,namun setelah dipikir-pikir,kami memang masih terlalu muda untuk mencoba hal serius yang seharusnya cukup dilakukan sekali seumur hidup.Karena itu,sebagai batu loncatan menuju pernikahan,kurasa pertunangan adalah pilihan yang paling baik.

“Kau pasti sangat cantik.” Aku tersenyum lagi.Moodku selalu membaik setiap membicarakan hal ini.”Aku akan segera melihatmu mengenakan gaun itu kan?” tanyanya dengan senyum lebar,membuatku ikut tersenyum dan kemudian mengangguk.Ia tertawa kecil,menghasilkan suara yang menurutku sangat lucu.Suara yang bisa membuatku tersenyum bahkan jika aku sedang menangis.

“Kau sendiri sudah mencoba jasmu?” Ia menggeleng.

“Belum.Aku belum sempat ke butik itu.Tapi aku akan kesana sesegera mungkin.”

“Aku benar-benar penasaran.” Aku meliriknya dan membayangkan pria itu dengan tuxedo.Bahkan membayangkannya saja sudah membuatku gembira.

“Lalu bagaimana undangannya?” Tanyaku lagi ketika mengingat bahwa desain undangan seharusnya selesai kemarin.

“Sudah selesai,tadi aku sudah melihatnya.Aku membawa satu contoh,ada di laci-“

TSIIIITTT

Ia menekan rem mendadak.Seekor anjing menyeberang di depan kami dan nyaris saja tergilas.Aku kaget bukan main.Jantungku berpacu cepat dan wajahku pucat seketika.Aku menurunkan kaca jendela dan melihat anjing lemah itu mengeberang menuju trotoar.

Ia kembali menjalankan mobil ketika anjing itu sudah sampai di pinggir jembatan.Tunggu..jembatan?kenapa ada anjing di jembatan?Tapi jalanan sangat sepi,mungkin anjing itu tidak akan menemukan pemiliknya.Atau itu anjing liar?namun anjing liar tidak diperbolehkan lepas dijalan.

“Yixing.. Sepertinya anjing itu tersesat.”

“Mungkin pemiliknya akan segera mencarinya.” Ujarnya lagi melirik spion untuk melihat lagi anjing tadi yang sudah tertinggal jauh di belakang.

Aku kembali bersandar relax di kursi ketika Yixing kembali menekan rem.Aku kira ada binatang yang menyeberang lagi,atau orang,atau apapun.Tapi kemudian itu sebuah gundukan besar yang membuat mobil menjadi sedikit oleng dan terseret ke ujung terotoar.Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi hal terakhir yang kudengar adalah teriakanku yang keras dan hal terakhir yang kurasakan adalah kepalaku membentur sesuatu.

—-

Aku membuka mataku perlahan.Pusing luar biasa.Bahkan ketika aku terus berusaha membuka mata,aku masih tidak bisa melihat apapun selain gambar buram sebelum akhirnya aku menyadari sesuatu kental meleleh begitu saja di dahiku.Aku berusaha menyentuhnya untuk mengetahui cairan apa itu tapi yang kudapati adalah tulang tanganku yang sakit dan pergelangan tangan yang berdarah.Aku berusaha sekuat tenaga menggerakkan tanganku namun sangat sulit.

Aku memejamkan mataku beberapa kali untuk menahan sakit di banyak bagian yang tiba-tiba menyerangku.Aku berusaha bangkit,namun akhirnya aku tahu bahwa aku berada di dalam mobil.Mobil ini terbalik dengan aku yang masih didalamnya,tersangkut safety belt.

Yixing..dimana Yixing???

Aku menoleh ke kiri dan…

“Ya tuhan,yixing !!!” Aku berteriak ketika melihat seseorang dengan kepala berlumur darah tertimpa kursi dan kurasa ia juga tersangkut safety belt.Aku terus meneriaki namanya sampai akhirnya aku sadar bahwa yang aku lakukan dari tadi adalah berteriak tanpa suara.Suaraku seakan hilang,hanya terdengar bisikan kecil yang menemani tangisku.

“Yixing kumohon bangun!!yixing!!” Aku berusaha menggapainya dari jarak yang kurang dari semeter namun tanganku benar-benar tidak mampu melakukan apapun.

Aku menoleh ke arah safety belt-ku dan berusaha mencari lockernya namun begitu sulit karena kursi ini sudah nyaris remuk menimpaku dan buruknya posisi mobil ini terbalik.

Aku memegang safety belt itu dan berusaha menariknya secara paksa namun yang kuperoleh adalah tanganku yang semakin sakit.

Aku merangkak mendekati yixing hingga safety belt itu terasa tidak akan bisa lebih longgar lagi.Aku Berusaha keras menyentuhnya namun lagi lagi gagal.Tapi kemudian aku merasa ia bergerak.Tak lama ia membalikkan wajahnya dan kaget melihatku.Raut wajahnya melemah,namun ia berusaha mengangkat tubuhnya sedikit.Ia langsung saja panik dan berusaha keras menggapaiku namun kakinya tertimpa kursi.Ia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Kau harus keluar dari sini!” Ia seperti sedang mencari sesuatu dan juga menahan sakit dalam waktu yang bersamaan.

“Kita harus keluar dari sini bersama.” Ujarku dengan airmata yang sudah membanjiri tiap senti kulit wajahku.Airmata dan darah bercampur jadi satu,menetes di sekitar pipiku dan membuatku semakin pusing dengan baunya.

“Coba lepaskan safety belt mu.Di sebelah sana……coba raba!”

Aku segera meraba sebelah kananku tapi tidak bisa merasakan apapun.

“Kursi ini hancur,aku tidak tahu apa yang kupegang.” Aku menggeleng dan menekan-nekan besi yang kuperoleh berharap itu adalah locker safety belt,namun ternyata bukan.Malah ujung jarikulah yang terluka terkena sambitan kaca pecahan.

PRAANGG

Aku menoleh kaget ketika ia memberi tinju pada kaca mobil di sebelahnya.Ia mengambil pecahan kaca tersebut dan kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menggapaiku.Ia memiringkan tubuhnya kearahku untuk menjadi lebih dekat.Ia memegang safety belt ku dan menggoreskan pecahan kaca yang tajam itu disana.Tangannya berdarah,tapi aku tidak bisa melakukan apapun karena sekarang bukan saatnya memikirkan darah.Nyawa kami berada di ujung tanduk.

Sedikit demi sedikit safety belt itu teriris dan terlihat akan segera putus.Aku sedikit lega.Aku melihat kedepan,melihat kaca mobil yang sudah pecah berkeping-keping hingga hanya meninggalkan bingkai depan dengan ujung-ujung bekas pecahan kaca yang tajam.Jalanan begitu sepi,tidak ada seorang pun.Aku terus berdoa dalam hati bahwa akan ada orang yang melewati jalan ini.Kumohon tuhan,selamatkan kami.

“Cepat keluar!!”

Hah?

“Keluar sekarang juga!!!!”

Ia berteriak.Wajahnya terlihat marah karena aku masih saja belum mengerti.

“Tapi..kau bagaimana?”

“Aku juga akan keluar sebentar lagi.Kau keluar terlebih dahulu.” Setetes darah segar menetes dari dahi hingga ke ujung bibirnya.Mata sayunya terlihat memohon padaku untuk segera keluar.

“Tidak,kita harus keluar bersama.” Aku mengambil pecahan kaca tadi dan berusaha merangkak ke arahnya untuk memotong safety beltnya,namun ia memegang tanganku dan mengambil pecahan kaca itu hati-hati.

“Aku akan melakukannya sendiri.Ku mohon dengarkan aku.Keluar sekarang!”

“Tapi kakimu..” aku melihat kakinya yang benar-benar terhimpit kursi dan tidak mungkin bisa di keluarkan secara paksa.Bahkan jika ia berhasil memotong safety belt sialan itu.

“CEPAT!!” ia berteriak dengan sangat keras kearahku setelah melihat sesuatu.Aku tidak tahu sesuatu itu apa.Yang pasti,itu membuatnya panik.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.Aku tidak peduli dengan luka-luka ini,darah-darah yang terus menetes,aku tidak peduli lagi.Yang aku pedulikan saat ini adalah bagaimana caranya kami dapat keluar bersama.Ia juga harus keluar.Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri dengan keadaan seperti ini.

“Cepat!!apa yang kau lakukan disini?…kau bisa mencari pertolongan setelah keluar!”

BENAR,pikirku.

Aku mendekatkan tubuhku kearahnya,berusaha mengapai wajahnya dengan tanganku.Airmataku tumpah lagi ketika melihat kulit putihnya tertutupi garis-garis bekas aliran darah.Ia mendekatkan bibirnya padaku,menciumku lembut dan kemudian berbisik.”Kau harus keluar sekarang..” sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya dan mengangguk kearahku,menyuruhku untuk mengikuti instruksinya.

Dengan cepat aku menggesekkan sikuku sebagai tumpuan untuk bisa keluar dan segera mendapatkan pertolongan untuknya,dengan mangabaikan mataku yang semakin buram tertutup airmata.Aku terus merangkak keluar melalui kaca depan mobil yang sudah pecah tanpa memperdulikan sikuku yang tergesek beling dan bahuku yang menabrak besi bagian bingkai mobil yang patah.Aku juga merasakan nyeri luar biasa ketika sikuku terkena oli yang merembes di atap mobil yang sekarang menjadi alasku.Bahkan aku menarik kakiku yang terhimpit dengan paksa.Begitu perih,namun aku tidak lagi memiliki waktu untuk merasakannya.

Aku berhasil keluar dengan siku berumur darah.Dengan cepat aku bangkit dengan kaki yang lemah dan melihat ke arah jalanan yang sepi,membuat putus asa.Ya tuhan..kirimkan siapapun kesini ku mohon.

“Mundur lagi,lebih jauh!!” Aku mendengar yixing berteriak.Tidak terlalu keras namun cukup terdengar.

Aku yang sedikit pusing berusaha mundur perlahan menjauh beberapa meter dari mobil yang bentuknya sudah tidak beraturan lagi itu dengan mata yang terus mengawasinya.Kakiku seakan tidak mampu bergerak lagi,jadi aku hanya mundur beberapa langkah dengan pincang.Aku melihat ia berusaha memotong safety belt.Ku mohon cepat yixing,cepat.

“TOLONG!!!” Aku berteriak ke arah jalan.Benar-benar tidak ada satu orang pun disana.Sama sekali.

“TOLONG….kumohon..”

Aku terus saja berteriak ke arah jalanan yang tidak terlihat akan segera memunculkan kendaraan.Suaraku menggema,karena memang hanya suaraku yang mampu menghapus kesunyian jalanan saat ini.

BUAAARRR

Aku baru saja hendak berbalik untuk kembali melihat jalan ketika aku mendengar sesuatu.

Mobil itu….meledak?

Meledak.

Meledak.

“yi….xing…” aku menatap pemandangan didepanku tidak percaya.

“YIXIIIINGGGGGGG!!!!!!”

Api ledakan itu membentuk sebuah gumpalan besar dengan asap yang mengepul ke langit.

Semuanya terbakar.

“Yixing…” Aku terdiam menatap semua itu.Semua..semuanya.

Aku berdiri seperti patung.Bahkan lebih daripada patung.Tuhan..bangunkan aku.Aku tahu ini hanya mimpi.Sudah cukup sampai disini mimpi hari ini.Aku ingin bangun.

Tak lama samar-samar kudengar suara sirine mendekat,setelah api itu menutupi seluruh bagian mobil dengan sempurna.Aku tahu beberapa petugas penolong datang setelah mendengar ledakan itu,atau entahlah.Dan mereka disini sekarang.Tapi entah mengapa,aku bahkan tidak merasa mereka datang untuk membantu.

Terlambat.Kalian terlambat.

“Nona kau baik-baik saja?” aku tidak tahu sejak kapan seseorang telah menggenggam lenganku dan berusaha membuatku mundur lagi.

“Tidak…” Gelenglku dengan airmata yang bahkan tidak bisa berhenti.Hanya air mata,tanpa isakan,tanpa racauan.Aku menepis tangan petugas itu dengan kasar dan jatuh terduduk di aspal.

“Tidak mungkin..”

“Nona kau-”

Aku segera berdiri dan mengguncang petugas itu.”Tolong selamatkan dia,selamatkan dia!Dia sedang berusaha keluar,dia butuh bantuan.Kumohon….cepat..” aku mendorong petugas itu ke arah mobil yang meledak.Aku tahu dia akan keluar dari mobil itu,seperti janjinya tadi.Ia hanya sedang berusaha keluar,karena itu ia belum terlihat.

Tapi..mobil itu bener-bener meledak.

Kudengar petugas tadi berteriak ke arah petugas lainnya,mengatakan pada mereka bahwa ada orang lain di dalam puing-puing yang sudah terbakar disana.“Maaf nona,petugas sedang berusaha menghentikan apinya.”

Aku tahu.Aku tahu!!aku memiliki mata untuk melihatnya,bahkan aku melihat gumpalan api itu melahap tiap sudut mobil.Menelan pria itu.Yixing.

“Aku bahkan belum sempat melihat undangan itu.” Aku kembali terduduk di aspal ketika mengingat pembicaraan terakhir yang kami lakukan sebelum mobil itu terseret.Undangan itu..aku belum melihatnya.Aku menangis sejadi-jadinya,kali ini dengan racauan.

“Kau belum melihatku mengenakan gaun itu.” Aku berteriak seraya memukuli aspal.Beberapa orang berusaha menarikku memasuki mobil,tapi aku menepisnya.

“Aku belum melihatmu memakai tuxedo..yixing.” Seluruh tubuhku seakan mati rasa sekarang.Aku tidak merasakan sakit dari luka-luka itu,tidak sama sekali.Yang aku rasakan sekarang adalah sakit yang luar biasa di dalam.Di dalam hatiku,pikiranku,perasaanku.Semuanya bahkan lebih sakit dari luka-luka yang menganga itu.Lebih sakit daripada kakiku yang tidak mampu ku ajak berdiri lagi.Lebih sakit dari apapun.

Wajahnya yang berlumur darah itu muncul begitu saja di kepalaku.

Genggaman tangan terakhir darinya yang aku rasakan..

Tawa terakhirnya yang aku dengar..

Senyum terakhirnya yang aku lihat..

Ciumin terakhir darinya..

“Harusnya kita mati bersama..”

Mimpi itu..aku mimpi bahwa kita….akan berpisah.

2 thoughts on “[FF FICLET] On Rainy Days

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s