[FF FICLET] Falling Tears

Title : Falling Tears

Author : @Meeta1513

Genre : Romance

Cast :

-Park Chanyeol (EXO)

-Aku (Pembaca)

Length : Ficlet (1374 Words)

Disclaimer: ‘Aku’ disini adalah siapapun yang membaca.Anggap aja baca diary hidup sendiri muehehe.Semuanya murni keisengan belaka.Chanyeol milik tuhan,jadi jangan jambak-jambakan/ok.

­

“Chanyeol dia hanya temanku!!” Akhirnya aku berteriak keras ketika ia dengan seenaknya menuduhku.Aku pulang bersama seorang teman tadi siang.Baiklah,seorang teman laki-laki.Ia hanya memberiku tumpangan karena melihatku berjalan kaki.Bagaimanapun ia teman sekelasku,aku mengenalnya dengan sangat baik dan dia benar-benar hanya seorang teman.Namun pria ini,pria yang berada didepanku ini dengan seenaknya mengambil kesimpulan dan menuduhku yang tidak-tidak.Seakan semua memang salahku,ketika ia sendiri yang menelpon tidak jadi menjemputku karena ada sesuatu yang mendesak.

“Dia laki-laki kau tahu?!Harusnya kau sadar itu!!!”

“Tapi dia hanya menumpangiku chanyeol,demi tuhan apa yang sedang kau bicarakan!” Aku kembali berteriak ketika ia kembali membentakku.Pria ini semakin gila.Ini bukan pertama kalinya kami bertengkar seperti ini.Aku selalu berusaha menjaga ucapanku agar ia tidak terpancing dan memulai pertengkaran,tapi pada akhirnya ia tetap melakukannya.Ia seperti anak kecil,begitu suka membesar-besarkan masalah,begitu suka membuat keributan dan selalu saja aku yang mengalah.

“Harusnya tadi aku tidak melihatnya kan?agar kalian bisa bersenang-senang.Kau lain kali ajak dia saja untuk berpergian!!” Aku hanya diam,menahan airmataku.Bahkan seribu kalipun aku menjelaskan,ia tidak akan pernah mengalah.Chanyeol bukan tipe pria kasar yang akan memukul wanitanya ketika bertengkar,tapi ia adalah pria yang akan terus saja mengeluarkan tuduhan-tuduhan bodoh.Ketika marah,emosinya begitu tidak terkontrol,sama seperti otak dan mulutnya yang menjadi tidak sejalan.

“Kau tahu aku menunggumu berapa lama?KAU TAHU??” Aku kembali berteriak ketika melihatnya hendak mengeluarkan suara.”2 jam chanyeol,2 jam.” Aku menurunkan volume suaraku.”Kau selalu membuatku menunggu,membuatku ingin memukulmu!tapi apa?aku tidak pernah marah!.Bahkan saat kau batalkan janji itu,aku juga tidak marah!!Setelah semua itu kau masih menuduhku?”

“Jadi sekarang kau mengungkit semuanya dan menyudutkanku???!!!”

“Ini hanya masalah aku pulang bersama seorang pria,kenapa harus diributkan!.” Nada suaraku melemah dan akhirnya airmataku jatuh lagi.

“dan bagimu itu hanya?HANYA?”

Aku mengambil tas bahuku yang kuletakkan dimeja ruang tengah dan segera keluar meninggalkannya di rumahku ketika aku mendengar ia kembali berteriak.

Aku tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini.

—-

Aku duduk di tepi sungai han yang mulai remang,sudah agak sore.Aku masih menangis sejak tadi.Aku hanya begitu kesal dituduh seperti itu dan rasanya seperti..sejahat itukah aku untuk berselingkuh?Aku bahkan tidak memiliki pikiran untuk melakukannya.Kenapa selalu dia yang benar dan aku yang salah?kenapa selalu dia yang menang dan aku yang mengalah?kenapa selalu dia yang memulai dan aku yang meminta maaf?kenapa selalu dia yang dapat berbicara seenaknya?

Aku selalu berusaha mengerti.Mengerti sifatnya yang kekanak-kanakan,mengerti segala hal yang dianggapnya harus aku mengerti—tanpa peduli apapun.Dan setiap selesai bertengkar,dia akan mendiamkanku berhari-hari.Aku berumur 2 tahun dibawahnya,tapi disaat bersamaan aku merasa bahwa akulah yang lebih tua.

Pernah suatu kali aku marah padanya karena ia tidak menjawab telponku berkali-kali.Aku diam dan kemudian ia datang untuk bertanya.Aku tidak menjawab,masih merasa kesal.Aku benar-benar tidak bermaksud untuk diam dalam waktu lama,aku hanya….tidak dalam keadaan ingin berbicara padanya saat itu.Perasaan dimana terkadang aku hanya ingin diam saja agar dia mengerti bahwa aku kesal.Dan ketika beberapa kali mencoba membuatku berbicara namun gagal,ia pergi begitu saja.Hari berikutnya?ia mendiamkanku.Ia marah karena aku mengabaikannya,jadi ia balas mengabaikanku.Dan akhirnya akulah yang meminta maaf padanya,berusaha untuk sabar berapa kalipun ia menolak untuk berbicara padaku.

Aku mencintainya,namun aku tidak begitu buta hingga mengabaikan sifat buruknya itu.Tapi..aku juga tidak pernah bisa benar-benar marah padanya.Bodoh,bukan?

Aku tahu sekarang wajahku sudah basah karena airmata,airmata kekesalan atas semuanya.Semua yang ada disini seperti sedang mengejekku.Burung-burung yang berterbangan,angin yang bertiup dan daun-daun yang berguguran seakan menyindir semua lukaku.

Langit semakin gelap,benar-benar sedang menelan matahari perlahan.Aku akhirnya hanya menatap cahaya yang menjadi jingga itu dengan tarikan nafas letih.Airmataku jatuh lagi.Aku terus membiarkan buliran-buliran itu jatuh agar rasa kesalku ikut pergi bersamanya,namun kenapa rasanya semakin lama semakin sesak?Bahkan ketika cahaya jingga perlahan berganti dengan warna agak kemerahan,hatiku masih saja terasa begitu pedih.

Aku menundukkan kepalaku,kemudian melirik tas bahuku dan mengambil ponsel didalamnya.Aku menyalakan layar,hendak melihat jam.Tidak,sebenarnya itu hanya alibi.Aku bukan ingin melihat jam,tapi ingin melihat apakah ada panggilan atau pesan dari……

aku tahu aku begitu bodoh.Sangat bodoh.Karena pada akhirnya hanya jam lah satu-satunya hal yang dapat kulihat disana.Tapi kemudian aku tersenyum miris,karena memang inilah yang selalu terjadi padaku.Aku tidak pernah berharap ia menjadi pria romantis seperti didrama-drama yang akan meminta maaf pada kekasihnya hingga hujan-hujanan.Aku juga tidak pernah memintanya untuk meminta maaf.Aku hanya ingin ia sedikit mengerti,hanya itu.Apakah begitu mustahil?

Aku kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.Aku terus bertanya-tanya apa yang sedang pria itu lakukan sekarang.Meskipun pikiranku terus membunuhnya saat ini,namun hatiku tidak.Bagaimanapun,ada rasa khawatir.Aku tahu ia juga terluka,dan ia selalu menunjukkan rasa itu dengan cara yang salah.Lagi-lagi aku merutuki diriku sendiri.Disaat ia bahkan tidak peduli aku terluka atau tidak,aku masih saja terus mengkhawatirkannya.

Aku kembali menatap langit yang hampir gelap sempurna dengan mata yang belum bisa berhenti melakukan hal bodoh—sama seperti hatiku.Aku kembali berpikir,apa yang membuatku begitu menyayanginya selama ini?Selama lebih dari setahun ini,aku bahkan belum pernah berpikir untuk berpisah dengannya.Ketika bertengkar,kami seolah-olah benar-benar tidak akan pernah bisa bersama lagi.Namun seminggu berikutnya,hubungan ini kembali baik-baik saja—setelah aku mengalah.Dalam seminggu ia bisa saja membuatku tersenyum dan menangis,dalam waktu yang sangat dekat.Aku tahu dia begitu sensitif terhadap hubunganku dengan orang-orang diluar kami,karena itu aku selalu saja berusaha memahami.Tapi terkadang aku lelah.Lelah selalu memahaminya yang semakin lama semakin tidak bisa dipahami.Lalu,kenapa aku masih saja mencintainya?

Aku baru saja hendak bangkit untuk mencari minuman ketika aku mendengar sesuatu yang mengejutkan berasal dari langit.Aku berdiri dan melihat ada begitu banyak cahaya kembang api di atas sana.Banyak sekali,begitu indah.Satu persatu cahaya yang terbang ke langit itu pecah menghasilkan percikan-percikan warna yang sangat menakjubkan.Aku tersenyum melihatnya.Memangnya tanggal berapa sekarang?Sungai han tidak terlihat sedang mengadakan pesta kembang api.

Aku masih saja terpaku pada langit ketika menyadari ada sesuatu yang hangat menggenggam tangan kananku.Dengan cepat aku meliriknya dan mendapati sebuah bahu bidang disebelahku.Mataku naik untuk melihat wajahnya dan…itu chanyeol.Wajahnya terlihat ditengah-tengah kegelapan dan tangannya..menggenggam tanganku.

“Kau suka?” tanyanya tiba-tiba dengan wajah yang menghadap langit,membuatku sedikit bingung.”kembang apinya.” Ucapnya lagi dengan senyum tipis yang dapat kulihat bahkan dengan ekor mataku.Aku menatap kembang api itu lagi sekilas,percikan terakhir karena setelah itu tidak ada satupun suara lagi yang mencairkan keheningan malam.Ternyata..itu darinya?Kemudian mataku kembali menatapnya,hanya beberapa detik hingga aku kembali menatap kebawah.

Aku merasakan tangannya menggenggam tanganku lebih kuat sekarang.

“Aku..seperti anak kecil kan?” tanyanya dengan suara rendah.Ia tertawa kecil,seperti menertawakan dirinya sendiri.Namun matanya masih saja menatap langit,seakan menerawang hal yang tidak bisa kujangkau.

“Aku selalu saja membuatmu mengalah.” Lanjutnya.Aku masih menatap kebawah,tidak mau memotong kalimat-kalimatnya.Namun,ada rasa yang aneh setelah kalimat itu keluar.Seperti,seseorang baru saja mencabut duri yang menusuk kulitku.

“Aku selalu melakukan hal-hal sesukaku,dan kau selalu memberi toleransi.Kenapa?”tanyanya yang kali ini seraya melihatku.Tak lama,ia kembali melihat langit ketika aku masih tidak tau harus berbicara apa.Saat ia mengatakan itu,aku tahu ia sudah berusaha keras untuk memangkas seluruh gengsinya,karena ini adalah pertamakalinya.Benar-benar pertama kalinya.

“Setiap aku marah padamu,aku selalu menyesal.Sangat menyesal.Tapi ketika aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf,kau selalu saja datang paling awal untuk itu.” Suara berat itu menembus telingaku.”Terima kasih.” Setetes air mataku jatuh dengan mudah ketika mendengar itu.

“Aku tahu caraku untuk menjagamu salah.Aku begitu sensitif dan marah akan banyak hal.Tapi….aku hanya kau ingin tahu.Meskipun dari jauh,aku selalu mengawasimu.Aku bahkan tahu kau disini,sejak tadi.” Ia kembali tertawa untuk dirinya sendiri.Kurasa is merutuki semua yang telah ia lakukan selama ini.Atau mungkin merutuki ketidakberaniannya untuk menemuiku sejak tadi.Entahlah,yang pasti aku kaget mendengarnya.Aku tidak tahu bahwa ia berada disini sejak tadi.Tapi…aku hanya akan mendengar lagi,mendengar segala hal yang ingin ia katakan.

Tiba-tiba saja ia menarik bahuku untuk menghadapnya.Ia memegangi pipiku yang basah,menghapusnya lembut dengan ibu jarinya.Yang bisa kulakukannya hanya mematung ketika matanya mengunci mataku.

“Bahkan aku selalu membuat pipimu basah.” Ucapnya menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.Aku kembali menumpahkan airmataku lagi,tak sengaja.Ini..untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis.Dan aku benci itu.Sungguh.

“Aku,keterlaluan kan?” lanjutnya kemudian yang tentu membuat airmataku semakin tumpah membahasi jari pria itu.Aku berusaha menahannya sekuat mungkit,tapi tidak bisa.Aku tidak bisa menahan airmata ini,setetes pun.

Ia kembali menghapus tetesan airmata itu dengan wajah menyesal.“Kau..pasti marah..kan?Tadi aku begitu keterlaluan.Aku menyesal.” kali ini setetes airmatanya lah yang jatuh,begitu cepat hingga hanya meninggalkan garis basah dari mata hingga ke dagunya.Bibirnya bergetar ketika mengatakan hal itu.Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang selain menggenggam tangannya yang masih berada dipipiku.Ku mohon,jangan berbicara lagi.

“Ak-”

“Aku tidak marah,chanyeol~ah.Aku tidak marah.” Ucapku di sela-sela tangisku.Aku segera memeluknya dan menumpahkan seluruh airmataku di bahunya.Kali ini..airmata bahagia.Bahagia karena aku tahu bahwa chanyeol menyesali semuanya.

Dan ketika tangan besarnya mendekap punggungnya lebih erat,aku tahu mengapa aku tidak pernah ingin berpisah darinya.Aku..begitu tergantung padanya.Pada apapun yang ada didirinya.

Kini tangan hangat itu mengelus punggungku,kemudian kepalaku.Ia mencium keningku sekilas,kemudian kembali memelukku.

“Maaf..untuk semuanya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s