[FF FICLET] Don’t Go (가지마)

Title : Don’t Go (가지마)

Author : @Meeta1513

Genre : Romance

Cast :

-Kris/Wufan (EXO)

-Aku (Pembaca)

Length : Ficlet (1237 Words)

Disclaimer: ‘Aku’ disini adalah siapapun yang membaca.Anggap aja baca diary hidup sendiri muehehe.Semuanya murni keisengan belaka.Kris milik tuhan,jadi jangan rebutan(?)/sip.

Aku melangkahkan kaki dengan berat.Namun aku bersyukur,ternyata kakiku masih hidup ketika hatiku telah mati.Akhirnya…akhirnya setelah sekian lama,aku bisa melakukannya.Aku begitu lelah,dengan segalanya,dengan hal-hal sepele yang dulu kuabaikan,dan hal-hal besar yang terus kupertahankan.

Pada akhirnya,hal ini memang harus terjadi.Tidak ada yang dapat kupertahankan lagi,kami pertahankan lagi setelah semua ini.semuanya hanya..begitu berat.Aku sudah berusaha sebisaku,mempertahankan semua yang kuanggap mampu kupertahankan,membiarkan banyak hal menyakitiku untuk tetap bertahan.Tapi pada akhirnya,aku lelah.

Kris—yang biasa kupanggil wufan,adalah seorang member dari sebuah Idol Grup terkenal dikorea.Bukan Idol Grup baru,tidak juga bisa disebut lama.Hanya saja,popularitas yang mereka raih dengan cepat itu membawa mereka ke posisi teratas penyanyi-penyanyi senior.Tentu,hal itu sangat berpengaruh pada kami.Pada dia yang bahkan tidak memiliki waktu lagi untuk memperhatikan dirinya sendiri.Aku sudah berusaha mengerti dengan tidak menuntut apa-apa,bahkan tidak menuntut waktunya­—satu-satunya hal yang paling kubutuhkan.Aku menanam dalam-dalam segala egoku dan sakitku,menutupnya dengan apapun yang aku bisa.Tapi pada akhirnya,tetap saja,ego dan sakit yang tertanam itu,berteriak keluar.Begitu lelah.

Setaun setelah ia debut,ia benar-benar kehilangan seluruh waktunya untukku,untuk segala hal.Aku bisa memaklumi itu,namun banyak hal lainnya yang sebenarnya terpaksa aku maklumi.Semua bebannya,aku tidak ingin menambahnya sedikitpun karena itu aku hanya menunggu ia menelpon,tidak peduli betapa besarnya keinginanku untuk mendengar suaranya,aku hanya akan mendengar lagu-lagunya untuk menutupi itu.Lagi-lagi,ada begitu banyak hal yang kututupi.Pada saat itu pula,aku sadar,hubungan seperti apa ini.

Dalam sebulan,ia hanya menelponku 2-3 kali,dengan durasi yang sangat singkat.Hanya sesekali jika ia benar-benar memiliki waktu,maka kami dapat berbicara hingga setengah jam.Namun terkadang,aku hanya merespon omongannya,tidak berani bercerita panjang lebar,takut ia kelelahan.Semua perasaan khawatir mengganggunya terus menghantui ku,tentang apapun yang berhubungan dengannya.Hubungan dimana aku dan dia dapat dikatakan,lebih buruk dibanding pertemanan.

Hubungan ini juga begitu sulit dipertahankan.Kami sama-sama terperangkap,terkurung didalam hubungan yang bahkan terlihat tidak layak untuk tetap ada.Kami tidak saling mengikat,seperti aku yang membiarkan ia bertemu siapapun sesukanya,dan ia yang melakukan hal sama padaku.Tapi ikatan yang aku anggap tidak ada itu ada,hanya saja tak terlihat,dan itu sebenarnya mengikat kami.Aku tidak bisa pergi dengan teman lak-laki—siapapun itu,karena bagaimanapun aku miliknya,dan ia juga selalu harus menjaga diri dari skandal cinta industri musik,untukku.Jika aku memiliki banyak jembatan untuk mengawasinya,melalui fans dan kamera yang menjaganya 24 jam,maka yang ia miliki hanya kepercayaan yang diberikan padaku.

Dengan berfikir bahwa ia juga pasti lelah dengan segalanya,sesekali terbersit dipikaranku untuk mengakhiri semuanya.Namun ternyata,hati dan pikiranku tidak pernah sejalan.Ketika pikiranku memberontak mencari jawaban,hatiku terus menunda-nunda agar hari seperti ini tidak pernah ada.Namun,ternyata,pikiranku menang.Meninggalkan hatiku yang telah mati.Hari ini,setelah 3 tahun,akhirnya semua selesai.

Aku mengajaknya bertemu di sebuah jalan sepi.Mengingat waktunya yang tidak terlalu banyak,aku hanya akan bisa menunggu ia datang.Bahkan jika tadi ia tidak datang,aku hanya akan terus menunggu.Mungkin besok?lusa?minggu depan?aku akan tetap menunggu untuk hari ini.Namun yang kudapati saat aku tiba adalah dia yang sedang bersandar di tembok pinggir jalan dengan syal bergelut dilehernya,menutupi bibir serta kaca mata hitam besar.Saat itu pula aku merasa kesal.Harusnya dia tidak datang,menundanya jadi besok,atau bulan depan.

Kakiku terasa sangat berat saat jarak kami hanya tinggal beberapa meter saja.Ketika menyadari aku datang,ia tersenyum.Apa lagi yang bisa kulakukan selain membalas senyumnya?

“Itu..aku..” lidahku kelu,bibirku terasa begitu kering hingga susah mengeluarkan suara.”aku..sudah memikirkannya,dengan sangat matang,kurasa.Kita..mungkin cukup sampai disini saja.”akhirnya kalimat itu keluar,sekaligus dengan segala beban yang ku pikul sejak lama,beserta ego dan sakitku,dan perasaan lainnya.

Aku menunduk,kemudian tersenyum—berusaha tersenyum lebih tepatnya.”Terimakasih untuk selama ini.Untuk segalanya.” Kemudian aku segera berbalik tanpa melihat wajahnya.

Aku terus melangkahkan kakiku yang rasanya semakin berat saja.Diam-diam,aku berharap ia memanggilku atau menarikku,atau apapun untuk mencegahku pergi.Tapi setelah langkahku mencapai langkah belasan,kemudian puluhan,tidak juga terdengar suara teduh itu.Ingin,aku ingin sekali berbalik.Namun aku tidak punya keberanian.Setelah semuanya kukeluarkan tadi,tidak ada yang tertinggal didiriku,selain kaki ini untuk berjalan.Aku takut ketika aku berbalik,yang kulihat adalah dia yang tersenyum lega,atau dia yang menangis terluka,atau dia yang hanya memasang wajah datar tak tertebak,atau aku yang semakin tidak bisa melepasnya.

Jadi..semua berakhir disini.

Sudah seminggu sejak hari itu,hari dimana seluruh rasaku mati,kecuali kaki ini.Dan kemudian aku sadar kebodohan terbesarku adalah terus menatap layar ponsel menunggu sesuatu yang seharusnya tidak kutunggu.Aku tidak tahu bahwa aku akan sehancur ini setelah semua beban itu terangkat.Aku bahkan tidak berani menonton hal apapun yang berhubungan dengannya,takut akan hal yang aku sendiri tidak tahu.Dan..aku juga baru tahu bahwa hati yang telah mati masih juga merasakan sakit.Seperti tersiram air panas,kemudian ditusuk,lalu ditaburi garam dan direndam di perasan lemon.Nyeri.

Aku beranjak dari kasurku setelah melihat jam menunjukkan pukul setengah 7 pagi,kemudian keluar kamar menuju dapur untuk menuangkan air mineral kedalam gelas.Sebuah memori membawaku ke masa lalu,saat tiba-tiba ada seseorang yang menekan bell apartemenku,dan ketika ku buka,seorang lelaki tinggi langsung masuk dengan terburu-buru.Wufan selalu seperti itu,agar tidak tertangkap kamera.Ketika datang,ia akan membawakan banyak sekali cemilan dan pasti selalu ada pizza di sana.Ia juga akan menceritakan seluruh hari yang ia lewati tanpa aku dengan wajahnya yang lucu.Kemudian ia akan mencari tayangan bagus untuk ditonton,atau melakukan hal-hal santai lainnya sebelum waktunya habis.

Aku tersentak ketika menyadari air yang kutuang sedari tadi tumpah hingga merembes ke lantai.Dengan wajah letih,segera ku ambil kain pel.Air-air itu seakan mengejekku,setelah mengajakku bertarung untuk siapa yang terlebih dulu tumpah.Dia atau airmataku.

Ketika hendak meletakkan lagi kain pel itu kedapur,aku menoleh ke arah pintu.Sedetik aku membayangkan bahwa seseorang akan datang dan mencegahku pergi darinya,namun detik kemudian aku menyadari bahwa dia tidak akan datang karena dia begitu bahagia mendengar ucapanku seminggu yang lalu hingga membuat hari-harinya begitu bebas.

Namun..satu hal yang masih saja terus bersarang di kepalaku.Kenapa selama 3 tahun ini,setelah segala popularitas yang ia dapat setahun terakhir,segala kemudahan dan segala fasilitas,ia tidak pernah memintaku untuk mengakhiri semuanya.Apa aku begitu menyedihkan hingga ia tidak tega?atau ia tidak punya waktu untuk memikirkannya?atau seminggu yang lalu,ia juga hendak mengatakan hal yang sama?

Aku tahu ia lelah,karena itu aku memutuskan hal ini.Aku selalu berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah yang terbaik,untukku dan untuknya.Tapi,kenapa aku seperti baru saja melempar boomerang.Semua yang aku keluarkan saat itu,seperti kembali padaku lagi.Bahkan berlipat ganda.

Tanpa perintah,buliran bening tumpah begitu saja di pipiku.Aku segera menghapusnya.Mungkin aku memang harus mencari udara segar diluar,jadi kulangkahkan kakiku keluar.

Mataku terbelalak melihat sesuatu yang kutemukan di depan pintu ketika aku keluar.Wufan…

Sungguh bahkan aku tidak bisa bergerak sama sekali.Pria itu bersandar di tembok dengan mata terpejam.Dia..kenapa disini.

“Wufan..” akhirnya aku memanggilnya pelan,dan dalam waktu sekejap ia langsung terbangun dan membenarkan posisinya.Ia menggunakan kacamata agak gelap,namun matanya masih dapat terlihat dengan jelas.

“Aku takut kau belum bangun sepagi ini.”Ia tersenyum canggung,memberitahu alasannya berada disana tanpa perlu kutanya.”Boleh..aku masuk?” tanyanya ragu.Aku mengangguk,seperti orang bodoh.

Aku segera menyusulnya masuk dan menutup pintu apartemen ketika ia menarikku dan memelukku.Pelukannya begitu erat,bahkan aku tidak bisa bergerak sama sekali.Ia membenamkan wajahnya di bahuku,dan aku mendengar ia berdesis beberapa kali,nyaris seperti terisak.

“Saat itu..aku begitu kaget.Aku menunggumu berbalik,tapi kau tidak.” Ia semakin mengeratkan tangannya di punggungku.”Ku kira aku tidak bisa melakukan apapun saat itu kecuali berpikir.Aku berpikir selama seminggu ini hingga rasanya hampir gila.” Kurasa sudut mataku mengeluarkan sesuatu sekarang.”Dan aku tidak tahu jawaban seperti apa yang pantas menjadi jawaban.”

Aku masih terus menangis tanpa suara,mendengar ucapannya dengan seksama.

“Aku masih begitu ingin mempertahankan ini.Tapi semuanya tergantung padamu.Jika kau lelah dan benar-benar ingin pergi..aku akan melepasmu hari ini.” Ucapnya pelan,nyaris berbisik.Suara itu begitu teduh,penuh kedamaian.Aku tidak tahu sejak kapan suara itu membuat ku candu,hingga aku sadari bahwa aku memang tidak akan pernah bisa hidup tanpa suara itu.

“Apa kau..masih mau bertahan?” tanyanya lagi,masih memelukku.

Aku menghela nafas dengan gemetar,membenamkan wajahku dibahunya sekarang.Ada sebuah rasa dimana seluruh beban terangkat dengan sendirinya saat itu.Seakan semua beban itu pergi sendiri karena sudah muak bersamaku.

“Aku kira aku lelah,tapi ternyata aku jauh lebih lelah tanpamu.Aku..ingin mempertahankah kita,lebih dari apapun.”

4 thoughts on “[FF FICLET] Don’t Go (가지마)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s