[TwoShoot] One More Day (하루만더) Part.2 (END)

Title : One More Day (하루만더)

Author : @Meeta1513

Genre : Angst

Cast :

-Luhan (EXO)

-Hwang Yoodo

Length : Twoshoot (2085 Words)

 

Part 1

 

large

 

Yoodo melirik jam yang ada dikoridor,sudah menunjukkan pukul 01:00,sudah melewati jam makan siang.Ia berfikir kenapa Luhan tidak juga datang.Ya,Ia berhasil tidak tidur semalaman,meskipun kantuk mengerangnya tanpa ampun.Tapi pada akhirnya,dengan mata berkantung dan wajah letih seperti itu ia berhasil untuk tetap terjaga—meskipun Ibunya sedikit heran karena melihat tingkahnya yang sangat rilex terhadap siapapun.Dan sejak tadi pagi ia terus berfikir,seburuk apa responnya dihari-hari sebelumnya?

Ia mulai berjalan menyusuri koridor karena merasa tidak sabar menunggu temannya itu.Langkahnya berhenti di depan ruang rawat Luhan,ruangan dimana Luhan menghilang pada malam sebelumnya.Ia baru hendak mendekati pintu ketika dua orang suster keluar dengan wajah resah dan salah satunya memegang nampan berisi sepiring bubur.

“Bahkan hingga ia sekarat,ia tidak akan mau menelan makanan.Bodoh sekali.” Cerca  seorang suster tanpa menyadari kehadiran Yoodo disana.

“Maaf,apakah Luhan didalam?” potong Yodoo yang membuat kedua suster yang hendak berkomentar itu menutup mulut mereka rapat-rapat.Mereka mengangguk dan kemudian mulai menyingkir dari posisi mereka yang menutupi pintu.

“Ah..itu..bolehkan aku memberikannya?” Tanya Yoodo yang langsung disambut oleh tatapan ragu oleh kedua suster tersebut.Salah satunya terlihat yakin bahwa tidak ada gunanya membawa piring itu kembali kedalam,tapi yang satunya lagi menyuruhnya untuk memberikan piring itu pada Yoodo.

“Semoga berhasil.” Ucap mereka sebelum akhirnya benar-benar pergi.

Yoodo menggengam nampan tersebut dengan hati-hati dan mulai membuka pintu.

Luhan yang sedang tidur diatas ranjang,melihat seseorang masuk dengan sebuah nampan melalui ekormatanya.

“Sudah kubilang aku tidak akan makan,kenapa kalian beg-” Luhan langsung bungkam ketika mendapati seseorang yang sedang membawa nampan itu bukanlah suster mengesalkan yang akan memohon padanya untuk makan.tetapi..Yoodo.

“k-kau..” Luhan mendudukkan tubuhnya untuk memastikan bahwa itu benar-benar Yoodo.

Gadis itu tersenyum dan berjalan mendekat.Ia meletakkan nampan itu di meja yang berada disisi ranjang, kemudian tersenyum ke arah Luhan.

“Kenapa kaget?” tanya Yoodo yang membuat Luhan semakin kaget.

“K-kau..kau..kenapa bisa disini?aku tidak menuliskan nomor kamarku pada buku itu..”

“Aku tidak membuka buku itu hari ini.” Ujarnya lagi dengan senyum yang sedikit lebih tipis.

Seperti tak percaya,Luhan yang masih duduk di ranjang hanya mengedipkan matanya berkali-kali hingga akhirnya ia kembali membuka mulut.”kau..mengingatku?”

Yoodo mengangguk.

“Bagaimana bisa?”

“Kau ingin tahu?”

Luhan menganggukkan kepalanya dengan mata melotot—ingin tahu.Yoodo tersenyum,kemudian mengangkat piring berisi bubur itu.

“Aku akan memberitahu setelah kau habiskan ini.” Yoodo mengambil sendok dan mengaduk bubur itu.Ia mengambil sesuap dan mengarahkannya pada bibir Luhan,namun tangan pria itu menghentikannya.

“Aku tidak mau.” Luhan memalingkan wajah.

“Kenapa?kau belum makan..”

“Aku tidak mau!!” Luhan bahkan tidak membalikkan wajahnya lagi ketika kalimat ketus itu keluar dari bibirnya.

Yoodo kaget bukan main.“Kau..marah?” Yoodo terlihat sedikit panik dan berusaha menggapai wajah Luhan,tapi pria itu tetap menjauhkan wajahnya.Sebenarnya Luhan tidak ingin membentak,terlebih setelah melihat banyak perubahan dari diri Yoodo sejak kemarin.Gadis itu jadi lebih mudah membuka mulut dan mengekpresikan perasaannya.Hal yang bahkan hingga saat Yoodo tersenyum tadi,masih sangat terlihat asing dimatanya.

“Aku menunggumu di kursi tunggu,tapi kau tidak datang.Aku khawatir jadi aku datang kesini.Lalu…..bagaimana bisa aku kembali keruanganku dengan perasaan khawatir seperti ini?Aku tidak tidur semalam,mencoba untuk tidak melupakan satu hal pun dari hari kemarin.Aku…ingin seperti kemarin.”

Luhan membalikkan wajahnya.Terkejut mendengarnya.Raut itu terlihat menyesal,sangat menyesal.Ia marah,karena ia memang tidak ingin makan,ia marah karena gadis itu begitu bodoh hingga tidak tidur semalaman,tapi rasa menyesalnya jauh lebih besar.Ia menyesal karena ia seperti baru saja meruntuhkan semangat hidup Yoodo.Ia menyesal karena tidak bisa menemui gadis itu tadi sebab kondisi tubuhnya menurun sejak tadi pagi.Dan ia juga menyesal,karena kalimat terpanjang yang pernah keluar dari bibir gadis itu adalah kalimat berisi rasa kecewa seperti yang baru saja ia dengar.

“Kenapa semalam kau tidak tidur?sudah kubilang aku akan mengulang hari kemarin untukmu,kau tidak percaya?”

Yoodo menggeleng.”Kau tidak datang tadi.” Ucapnya dengan mata yang sedikit berair.”Bagaimana aku bisa percaya?”

Luhan hanya terdiam.Ia tidak tahu sejak kapan ia merasa wajib menemui Yoodo setiap hari,dan sejak kapan ia mulai menikmati melewati jam makan siang.Karena itu,ia tidak menjawab,atau lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa.

“Jika kau tidak makan,besok kau juga tidak bisa menemuiku lagi.” Sambung Yoodo lagi.Wajahnya terlihat sedih.

“Jika aku makan,kau harus tidur nanti malam.Janji?” tanya Luhan cepat ketika melihat Yoodo yang masih menggenggam Piring berisi bubur itu.Seketika itu pula wajah Yoodo menjadi cerah.Ia tersenyum dan duduk di ranjang—disebelah Luhan.Dengan semangat ia menyuapi Luhan dan pria itu tidak memiliki pilihan lain selain menelan bubur itu.Beberapa kali ia memohon untuk berhenti,tapi Yoodo tidak menurutinya.Di satu sisi,Luhan khawatir akan pil-pil yang akan membuatnya menderita nanti malam,namun disisi lain ia juga merasa senang.Bubur itu memberinya banyak energi,dan sesungguhnya…ia senang karena Yoodo yang menyuapinya.

“Lihat,kau benar-benar lapar.” Yoodo tersenyum seraya memperlihatkan kepada Luhan piring bubur yang kosong tak bersisa.Gadis itu menatap Luhan dengan tatapan lega,seakan baru saja menyelesaikan tugas wajibnya.Sedangkan Luhan?entahlah.Ia tidak tahu harus melakukan apalagi selain tersenyum sekarang.

“Sesuatu yang kau gunakan untuk mengambil gambar kemarin..”

“Ah~,di sana.” Luhan menunjuk laci di sebelah ranjang.Yoodo segera membalikkan badan dan membuka Laci itu.Tangannya meraih sebuah barang elektronik berukuran segi empat berwarna putih.

“Bagaimana caranya?” Yoodo menatap Luhan bingung.Ia menyodorkan kamera itu dan dengan cepat Luhan menghidupkannya.

“Tekan ini,yang diatas.”

JPRETTT

Sebuah gambar lantai keluar dari kamera polaroid itu setelah jari Yoodo menekan sebuah tombol.

Luhan tertawa ketika Yoodo kebingungan melihat kertas berisi gambar lantai.”Tekan ketika kamera itu mengarah pada objek yang ingin kau bidik.Begini..” Luhan bangkit dari posisi duduknya di atas ranjang kemudian memegang tangan Yoodo yang sedang menggenggam kamera dan menuntun tangan itu untuk mengarahkan bidikan pada mereka berdua.

JPREETT

Luhan menekan jari telunjuknya yang berada tepat di atas jari telunjuk Yoodo,membuat jari Yoodo menekan tombol untuk mengambil gambar pada kamera tersebut.Sebuah gambar keluar dari kamera itu.

“whoaa..” Yoodo membulatkan matanya ketika melihat gambar yang keluar.”Kau tampan sekali.” Ujarnya polos,membuat Luhan hanya bisa tersenyum canggung.

“Bukannya sudah kubilang….bahwa aku tampan?” Pria itu tersenyum sekenanya,membuat gadis itu mengangguk ingat.

“Ayoo lagi!!”

JPRETTTT

Sebuah gambar kembali keluar.

“Lagi lagi..”

JPRETT

“Lagi..”

—-

“Nanti malam,rasanya aku tidak ingin tidur lagi.” Ucap Yoodo sebelum membuka pintu kamar rawatnya.Luhan menatapnya dengan tatapan melarang.

“Tidak boleh.Kau harus tidur,bahkan lebih cepat malam ini.Aku akan menemui besok.” Janji Luhan.Ia mengantarkan Yoodo ke kamar rawatnya ketika gadis itu bersikeras untuk tetap bersamanya hingga larut malam.Gadis itu,Yoodo,seakan benar-benar tidak ingin melupakan Luhan sedetikpun.

“Aku tidak mengantuk.” Bohongnya.Jelas saja,Luhan dapat melihat mata Yoodo redup dan ia sesekali menguap diam-diam.

Luhan menarik nafas,kemudian menutup sedikit jarak diantara mereka dengan melangkahkan kakinya beberapa jengkal.Tangannya bergerak menuju kepala gadis itu,mengacak rambut Yoodo sambil tersenyum.”Kau mengantuk,jadi tidur saja.Jika kau ketahuan olehku tidak tidur,aku akan mengomelimu.Ah,kau belum tau bagaimana jika aku marah bukan?itu menyeramkan.Kau harus hati-hati..” ocehnya panjang lebar,membuat Yoodo tersenyum.

“Aku tahu,sangat mengerikan.Seperti tadi,kan?”

“Lebih mennyeramkan daripada itu.” Ujarnya meyakinkan,membuat Yoodo bergidik.

Luhan tertawa kecil melihat raut khawatir di wajah Yoodo.Karena itu kini tangannya turun kepipi Yoodo,menepuknya pelan.”Masuklah dan tidur.Sampai jumpa.”

“Besok..kita akan berjumpa lagi kan?”

Luhan hanya tersenyum.

 

Luhan kembali ke ruang rawatnya ketika selesai memastikan Yoodo masuk ke ruangannya sendiri.Ia menghela nafas,kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.Kedua tangannya dilipat dibelakang kepala,dan kaki kanannya di tekuk.Ia menatap langit-langit ruang rawat itu.Polos.Seperti tak membiarkan mata pasien mendapatkan sedikitpun kesenangan disana.Kemudian sepasang bola mata itu melirik selang infus,merasakan denyutan-denyutan halus yang sebenernya menyakitkan.Ia lagi-lagi menghela nafas.

CKLEK

Ia mendengar suara pintu dibuka.Matanya langsung melirik jam dinding,kemudian menebak dengan tepat siapa yang datang.Sebenarnya ia ingin sekali tidur saat ini,matanya begitu berat,kepalanya begitu pusing.Namun mereka para dokter,tidak akan melepaskannya tidur tanpa mengkonsumsi obat terlebih dahulu.

Sama seperti hari-hari sebelumnya,ia harus menelan beberapa pil obat-obatan sebelum tidur.Dan kini ia khawatir,ia pasti akan muntah dan menghabiskan banyak tenaga untuk mengeluarkan seluruh makanan yang ada diperutnya sebelum akhirnya pingsan.Ia tahu,sangat tahu.Karena itu ketika dokter menghampirinya,ia hanya dapat memberi senyum.

“Kau terlihat lebih baik hari ini.” Sapa dokter pria berperawakan tinggi,dokter yang telah menanganinya selama ini.”Hasil ronsen telah keluar dan kita akan mendiskusikannya besok pagi.” Sambung dokter itu seraya mengecek layar monitor yang memonitoring kondisi Luhan.Setelah memastikan semuanya aman,ia memberi Luhan beberapa pil.

“Aku akan muntah setelah ini.” Ujar Luhan sebelum akhirnya menelan pil-pil itu.Dokter tersebut tersenyum mengetahui bahwa akhirnya Luhan mau menelan makanan.Setidaknya sekitar 40% dari makanan tersebut telah menyerap di tubuh Luhan.

Dan benar saja.15 menit berlalu hingga akhirnya Luhan mengeluarkan keringat dingin dan mengejang.Beberapa suster sudah tiba disana beberapa menit yang lalu.

Pria itu berlari kekamar mandi,berjongkok dan memuntahkan isi perutnya ke kloset.Beberapa kali ia terbatuk,merasakan kerongkongannya perih.20 menit ia berteriak kesakitan dan merasakan keram luar biasa pada perutnya sebelum akhirnya benar-benar pingsan.

“Kondisinya memburuk,suntik lagi!!” Teriak seorang dokter ketika melihat detak jantung dilayar monitor yang semakin melemah.Suster yang diteriaki itu segera menyuntikan lagi sebotol kecil cairan kedalam tubuh pasien.Detak jantung itu masih saja melemah,namun angka aktifnya naik.Sang dokter langsung saja memberikan CPR untuk memacu detak jantung itu hingga garis-garis dilayar monitor perlahan naik.Namun alih-alih memperlihatkan tanda-tanda melewati masa kritis,yang ada hanyalah detak jantung yang naik turun tak beraturan.

“Bawa tabung oksigen,pernafasannya memburuk.” Seorang suster lainnya berlari keluar dan tak sampai 2 menit ia sudah kembali dengan sebuah tabung oksigen yang didorong serta beberapa selang panjang ditangannya.Ia segera memasangkan selang-selang itu ke hidung pasien.

Beberapa detik setelah itu,detak jantungnya naik secara teratur hingga menjadi normal.Sang dokter menghela nafas lega.Ia panik luar biasa ketika tadi pagi,orang tua pasien menelponnya sambil berteriak.Luhan,pria itu akhirnya kalah.Ia yang selama ini selalu terlihat sehat,selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan selalu bangun pagi karena khawatir tidak dapat bangun lagi,akhirnya hari ini kalah.Ia tidak bangun sejak semalam,membuat semua orang panik.

Hasil ronsen yang seharusnya mereka diskusikan hari ini,adalah hasil dimana Luhan harus segera melakukan operasi dalam waktu dekat.Namun,ia kalah cepat.Virus yang menyerang hatinya jauh lebih cepat dan ganas dibanding keinginannya untuk hidup.Karena itu,sekarang ketika Luhan tidak memiliki kekuatan apapun untuk bertarung,ketika ia sendiri tidak bisa bangun dari pingsan itu,hanya Tuhan satu-satunya harapan.

“Baiklah,tidak ada waktu lagi.Persiapkan operasi untuk nanti siang pukul 2.” Dokter itu melangkah kaki hendak keluar dari ruang rawat tersebut sebelum mendengar suster berteriak.

“Dokter,jantungnya berhenti!!!”

Bahkan jika seseorang ingin bertarung,akan selalu ada keadaan dimana kekalahan datang lebih awal dibanding pertarungan.

Ia kalah.

—-

Yoodo membuka matanya dengan berat.pukul 11 pagi.

Ia ketiduran.Semalaman ia bersusah payah untuk tetap terjaga,bersusah payah mengalihkan kantuknya dengan makan dan menonton TV,tapi pada akhirnya ia tertidur.

Ia bangkit,mengerjapkan matanya beberapa kali,kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.Tak lama ia sudah kembali duduk di ranjang dengan wajah datar.

Ia menoleh ke meja disebelahnya,terdapat dua buku disana.Tangannya menggapai sebuah buku yang lebih besar dan membuka lembaran pertamanya.

“Luhan & Yoodo.Tidak boleh dilupakan J

Yoodo menaikkan alis,menatap foto dirinya dengan seorang pria dengan seksama.Karena tidak mengingat apapun,akhirnya ia membuka lembar demi lembar didepannya.Semuanya adalah fotonya bersama dengan pria yang sama.

“Luhan..” ucapnya ketika membaca nama yang selalu ada disetiap lembaran dan membaca satu persatu kalimat yang tertulis.

“Aku mengingat semuanya hari ini.Aku bersama Luhan menghabiskan waktu bersama.Ia berjanji akan terus menemuiku setiap hari pukul 12,jam makan siang.”

Yoodo memiringkan kepalanya,berusaha mencerna kalimat itu.Tangannya kembali bergerak membuka lembar setelahnya.

“Teman terbaikku,Luhan.”

Yoodo terdiam dan masih saja memasang raut wajah datar.Akhirnya,ia menggenggam buku itu dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.Ia duduk di kursi tunggu,menunggu hal yang ia sendiri tidak tahu.

“Luhan?” ia terus bergumam seraya membuka lembaran buku tersebut sesekali.”Luhan..lu..han.luhan.” ia mengeja kalimat itu beberapa kali,merasa aneh sekaligus bingung.

Ia melirik jam yang terdapat di ujung lorong.Pukul 11.30.

Matanya berputar menyapu keadaan koridor dengan wajah was-was.“Lu..han” nama itu kembali keluar dari bibirnya.ia terus mengeja nama itu seperti sedang berusaha menghafal.Ia baru hendak bangkit ketika melihat beberapa orang suster dari arah berlawanan mendorong sebuah brankar dengan seseorang di atasnya,ditutupi dengan kain hingga ujung kepala,lewat didepannya. Pandangannya mengawasi para suster itu,menunggu mereka lewat karena itu cukup menghalangi jalan.Ia hanya berdiri dengan wajah datar hingga akhirnya mereka lewat,menyisakan koridor yang luas untuk langkahnya.Ia terus berjalan ke arah yang ia sendiri tidak tahu,dengan bibir yang terus mengeluarkan ejaan pelan.

“Lu..han.Luhan.Luhan…”

Ia terus mengeja nama itu tanpa menyadari,pemilik nama yang ia sebut sedari tadi,baru saja melewatinya.Tepat,didepan matanya.

Luhan,sudah menepati janjinya untuk menemui Yoodo hari ini.Dengan cara yang telah dipilihkan oleh takdir.

END

 

 

~[Epilog]~

“Tidak ada waktu lagi,bawa keruang operasi sekarang.”

“Luhan..”

Luhan menoleh ke arah sumber suara,namun tidak ada satu orangpun yang terlihat.Tapi kemudian sebuah cahaya yang sangat terang menyipitkan matanya.Ia mengalihkan pandangan ke arah lain,namun tetap sama,cahanya itu mengepungnya.

Sesaat setelahnya,seluruh cahaya itu redup.Di sana,di ujung jalan ada seseorang yang melambaikan tangan padanya,mengajakanya untuk ikut.

Luhan melangkahkan kakinya untuk melihat sosok buram itu.Selangkah..dua langkah..tiga langkah..

“luhan..”

Ia berbalik ketika mendengar ada suara lain yang memanggilnya.

“lu…han..luhan.”

Di ujung jalan yang berlawanan,ada seorang gadis yang berjalan kearahnya,namun tak kunjung sampai.Luhan hanya menoleh,tak bergerak untuk memutar langkahnya.

Seketika cahaya di tempat gadis itu berada redup,hingga menjadi sangat gelap.Sangat gelap.Gelap itu seakan mengejarnya,semakin mendekat dan menelan cahaya yang ada disekitarnya satu persatu.Dengan langkah cepat luhan menambah langkah untuk menghindari gelap itu dan menyusul seseorang yang memanggilnya pertama kali.Hingga langkahnya masuk kedalam sebuah cahaya yang sangat terang.Dimana gelap itu tidak lagi terlihat.

 

“Dia..sudah tiada.”

3 thoughts on “[TwoShoot] One More Day (하루만더) Part.2 (END)

  1. Pingback: [TwoShoot] One More Day (하루만더) Part.1 | LittleShade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s