[TwoShoot] One More Day (하루만더) Part.1

Title : One More Day (하루만더)

Author : @Meeta1513

Genre : Angst

Cast :

-Luhan (EXO)

-Hwang Yoodo

Length : Twoshoot (2129 Words)

large

“Sudah kukatakan berapa kali,aku tidak mau makan.mengganggu saja.” Ujarnya sinis sebelum akhirnya menarik tiang tempat dimana kantong infus tergantung.Ia menyeretnya keluar dari ruangan tersebut,meninggalkan kedua suster yang tidak bisa berkutik ditempatnya.

Luhan.Pria berumur 23 tahun itu masih terus menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah santai.Tangan kanannya masih dengan setia menggenggam tiang infus yang memiliki selang yang tersamatkan di nadinya.Dengan kenyataan bahwa ia sudah beberapa kali mencabut jarum infus tersebut dan keesokan harinya ia kembali diinfus,maka ia tidak memiliki pilihan lain selain menjaga infus itu baik-baik atau luka-luka di sekitar tangannya akan semakin memburuk karena jarum yang tidak bersahabat.

Ia sudah berada disana,di rumah sakit itu selama 1 bulan.Waktu yang..lama?entahlah.Ia sendiri tidak tahu akan ada berapa banyak minggu lagi yang akan dihabiskan olehnya ditempat bodoh itu.mungkin..bahkan setahun?

Luhan memandangi tiap-tiap hal yang ditangkap oleh matanya kala itu.Pajangan disekitar koridor,banner di setiap sudut,tanaman hias di beberapa lorong,dan tentu saja orang-orang yang tidak memiliki pilihan lain selain harus berada disana,pasien.Kakinya masih terus menapaki tiap langkah hingga ia melewati seorang gadis yang sedang duduk disebuah kursi tunggu.Dengan acuh,luhan melewatinya,namun akhirnya ia berhenti sejenak,untuk sekedar menoleh.

Gadis berambut panjang tergerai sebahu itu hanya mematung.Duduk tenang,namun pikirannya seakan tidak berada disana.Karena merasa aneh,akhirnya luhan benar-benar menoleh tanpa berpindah selangkahpun.

“Hei..kau yang sedang melamun.” Panggilnya,namun tidak ada sautan.

“Jika kau melamun terus,apalagi ditempat sehorror ini,kau akan kerasukan.” Protes luhan karena gadis itu masih saja menatap lurus kedepan.Dan benar saja,akhirnya gadis itu menoleh.Matanya melirik luhan,namun tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

Luhan yang ditatap seperti itu,langsung menggaruk tengkuknya karena merasa canggung.”ah..aku rasa aku sudah mengganggu waktumu.Sampai jumpa..” Pamitnya sesegera mungkin dari tempat itu.

—-

Luhan kembali melewati jam makan siang­­ di hari berikutnya—seperti biasa,dengan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.Ia benci ketika harus menelan makanan itu disiang hari dan memuntahkannya hampir setiap malam.Penyakit kanker hati yang deritanya mengharuskannya mengkonsumsi sejumlah obat-obat aneh sebelum tidur,dan penyakit alerginya terhadap obat tablet memaksanya untuk memuntahkan seluruh isi perut setiap beberapa jam kemudian.Karena itu,ia tidak suka makan siang.

“Kau akan sakit jika tidak makan,tuan.ayolah..” mohon seorang suster suatu siang.Namun seperti biasa,dengan entengnya luhan hanya menjawab.”aku sudah sakit,tidak perlu khawatir.”

“Tapi tuan,sarapan pagi tidak akan menjaga tubuhmu hingga malam.”

“Makan siang juga tidak akan menjamin umurku.”

Setelah perdebatan itu,luhan selalu berhasil menolak makan siang.Orangtuanya pun tidak bisa melakukan apapun,selain membiarkan dokter menyuntik vitamin beberapa kali saat tubuh pria manis itu ambruk.

Dan masih sama seperti hari-hari sebelumnya,kakinya kini sedang melangkah dengan santai,menapaki senti demi senti lantai rumah sakit itu.

“Hei..kau bukannya yang kemarin?” Luhan berhenti ketika melihat seorang gadis duduk di kursi tunggu,dengan ekspresi yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.Tepatnya..kemarin.Namun gadis itu hanya meliriknya sekilas,kemudian tatapannya pindah ke lantai.Ekspresinya kali ini seakan bingung.

Luhan menunduk berusaha melihat gadis itu,bola matanya berputar,kemudian menaikkan alisnya.“Aku..yang kemarin mengganggu waktumu..kau ingat?” tanya Luhan hati-hati,seakan takut gadis itu marah—karena ekspresinya begitu buruk.

Lagi-lagi,gadis itu hanya meliriknya beberapa kali,kemudian melihat ke arah lain.

“ah..benar.Namaku Luhan.Senang berkenalan denganmu.” Ucapnya dengan senyum mengembang ketika menyadari bahwa gadis itu tentu tidak mengetahui namanya.

“Lu..han?” gadis itu bergumam pelan dan melihat kearahnya,namun dapat didengar oleh Luhan.Pria tinggi itu tersenyum lagi.”namamu?”

Untuk kesekian kalinya,gadis itu terlihat bingung,lagi.Ia seakan bingung dengan segala hal yang dikatakan Luhan.Membuat Luhan heran dan semakin ingin memancingnya untuk berbicara.Luhan menebak-nebak apa yang harus ia katakan selanjutnya.

“tunggu..” Mata Luhan menangkap sesuatu di baju pasien gadis itu.“Hei..kau bahkan memiliki nametag!bagaimana bisa?apa kau disini lebih lama daripada aku?tapi..kenapa aku baru melihatmu?benar-benar aneh.Dimana kau membuat nametag itu?bolehkah aku membuatnya juga?apa diperbolehkan?”

Gadis itu tertawa.

Ia tertawa.

Luhan yang tidak sadar telah mengeluarkan pertanyaan bertubi-tubi itu akhirnya diam ketika melihat gadis itu tertawa.

Pria itu mengerutkan dagunya,membuat bibirnya menipis.Bola matanya sedikit menyipit,membuat wajahnya benar-benar membentuk sebuah karakter anime dengan sempurna.

“Jadi..namamu hwang..yoodo?” tanya Luhan memastikan setelah membaca sederet huruf di nametag tersebut.Persetan dengan nametag,ia bahkan lupa apa yang harus ditanyakan ketika melihat gadis itu tertawa.

Namun sayangnya,tawa itu pudar seiring dengan pertanyaan terakhir Luhan.Sama sekali tidak ada jawaban,yang terlihat hanyalah raut bingung yang seakan sudah sangat melekat diwajah cantik gadis itu.

—-

“Tuan kau harus makan!kau mau kondisimu memburuk seperti dua hari kemarin?”

“Kalau aku makan,apa kau bisa menjamin nanti malam aku tidak akan muntah?jika bisa,maka aku akan makan.” Tangan pria sudah berada di tiang infus,seperti biasa ia sudah bersiap untuk berjalan-jalan dengan tiang itu.

“Tapi tuan,kau akan kekurangan karbohidrat dan protein jika selalu melewati makan siang.Itu akan memperburuk kondisimu.”

“Kau bisa cari suster lain untuk teman berbicara,aku harus mencari udara segar sekarang.Sampai jumpa.” Luhan menutup pintu kamar rawatnya dan langsung menyusuri koridor.Dua hari tergeletak di atas tempat tidur dengan berbagai alat medis membuatnya muak,dan ia ingin menghabiskan waktu siangnya di luar untuk hari ini.Ya,setidaknya itu rencananya sebelum ia kembali melihat gadis itu—Hwang Yoodo duduk di kursi tunggu seperti biasa.

Dengan wajah sumringah,Luhan segera menghampiri gadis itu dan dengan mudahnya duduk di kursi sebelahnya.

“Hei apa kabar?” tanyanya akrab.Meskipun dua hari yang lalu mereka tidak banyak berbicara.Atau lebih tepatnya Luhan mengoceh dan gadis itu hanya mendengar saja,namun Luhan menganggap bahwa mereka sudah berteman.

Tapi yang didapat Luhan kali ini sama saja seperti saat mereka bertemu pertama kali.Ekspresi bingung gadis itu kembali muncul.

“yaa~,kenapa kau selalu membuat ekspresi seperti itu?kau mengerjaiku?tidak mempan.Kau tidak mungkin lupa dengan wajahku,tidak banyak orang asia yang memiliki garis wajah sebaik ini kau tahu?”

Dan yang diperoleh Luhan sebagai jawaban adalah keheningan.Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir gadis itu.Luhan menaikkan alisnya,membasahi bibirnya dengan lidah dan memiringkan kepalanya.

“Kau tidak mengenaliku?yang benar saja..daya ingatmu rendah?”Ujarnya tak percaya.

“Kau..mengenaliku?” tanya gadis itu ragu.

“Tentu!ah tunggu,tidak aku tidak mengenalimu karena kau tidak mengenaliku.baiklah,aku mengenalimu tapi kau tidak mengenaliku.” Luhan mengoceh lagi,tanpa sengaja—kebiasaannya beberapa minggu terakhir setelah mengetahui bahwa ia harus berada dirumah sakit setiap hari.

“Apa kau temanku?” Tanya gadis itu lagi.

Luhan semakin bingung.Ia mengangguk namun wajahnya kesal.”Kau benar-benar tidak mengingatku?”Tanyanya lagi.Wajahnya seolah berteriak “Bagaimana bisa kau tidak mengenaliku???!!”

Tapi kemudian matanya turun menuju sesuatu yang ada di pangkuan gadis itu.Disampulnya tertulis “Pengingat”.

“Apa itu?” tunjuk Luhan.Gadis itu melirik arah yang ditunjuk dan menjawab dengan ekspresi datar.”Mereka menyuruhku menghafal hal yang ada disini.”

Luhan kembali tercengang.Untuk pertama kalinya,ia rasa itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan oleh gadis itu.Ia sendiri merasa bodoh,kenapa bisa terkesan pada hal-hal sepele seperti itu.Tapi,memang apapun yang keluar dari mulut gadis itu terdengar mengejutkan.Kenyataan bahwa di balik wajah datar dan kebingungannya,ia bisa tertawa.Kenyataan bahwa dibalik diamnya,ia bisa berbicara.Atau Luhan yang terlalu berlebihan.

“Itu..boleh aku melihatnya?” Gadis tidak mengangguk,ia langsung memberikannya pada Luhan.

Luhan membuka lembar-lembaran tebal itu perlahan.Matanya menyapu tiap tulisan didalamnya,seakan tidak boleh melewatkan satu hurufpun.Didalamnya terdapat beberapa foto dan di atasnya bertuliskan “Appa & Eomma”.Ada pula beberapa foto lain yang lengkap dengan nama dan keterangan pada bagian bawahnya.

“Aku bingung..” ujar Luhan sedetik setelah menutup buku itu.Ia berfikir keras,namun kepalanya tidak dapat berfungsi seperti yang diinginkan.Tidak ada asumsi apapun yang keluar kecuali satu.Amnesia.

“Kau..hilang ingatan?sejak kapan?apa sejak 2 hari lalu?” Yoodo diam,tidak mengubris.Tapi kemudian ia mengeluarkan pena dari sakunya,membuka lembaran buku tersebut dan kemudian menulis.

“Luhan adalah temanku.”

Hari-Hari berikutnya,Luhan selalu saja menghampiri gadis itu ditempat biasa—dikursi tunggu.Dan akhirnya ia tahu.Tahu bahwa gadis itu bukan amnesia,tapi lebih parah dari itu.Seminggu yang lalu,Ia datang terlambat ke kursi tunggu itu.Yoodo itu tidak ada.Tapi kemudian ketika ia hendak berbalik,ada seorang dokter yang keluar dari ruang rawat Yoodo.Awalnya ia hanya akan berbalik dan kembali ke kamar,namun kemudian ia penasaran mengapa Yoodo tidak pernah mengenalinya,berapa kalipun mereka bertemu.Karena itu akhirnya ia bertanya.

“Ia baru saja menjalani pengangkatan tumor pada otaknya.Operasi berjalan lancar,namun ada hal aneh yang terjadi.Ia tidak dapat mengingat siapapun,apapun bahkan dirinya sendiri.Kami mengira ia hanya lupa hingga beberapa hari karena efek dari pengangkatan tumor,namun anehnya ia lupa akan semua hal setiap pagi.

Setiap tubuhnya beristirahat ketika ia tidur,seluruh ingatannya pada hari itu juga ikut beristirahat,dan tidak pernah kembali lagi.”

Dan hari ini sama seperti hari yang lalu,ketika Luhan menghampirinya,Yoodo terlihat bingung.Namun kemudian Luhan membukakan sebuah lembaran pada buku yang dipegangnya dan tersenyum.”Aku Luhan,temanmu.”

Yoodo masih terlihat tidak begitu yakin,namun ia merasa bahwa senyum itu sangat familiar.Ia berusaha tersenyum,karena melihat pria yang ada di hadapannya itu tersenyum dengan sangat lebar.

“Kau mau jalan-jalan?”

Yoodo bergidik.Ia tidak tahu apapun,tidak mengenal apapun.dan..berjalan-jalan?untuk apa?

“Kau tidak perlu takut.Ada aku disini.Kau tidak percaya?” Luhan bangkit lalu memberikan tangannya pada Yoodo,dan gadis itu menggenggamnya tanpa menunggu sedetikpun.

Mereka berjalan keluar bangunan rumah sakit itu menuju ke taman,bertiga.Luhan,Yoodo,dan tiang infus.Mereka berhenti di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang agak rindang untuk beristirahat.

Luhan memandangi wajah Yoodo.Gadis itu selalu terlihat linglung,tidak mengerti dengan situasi apapun.Karena itu sepanjang jalan tadi,Luhan terus saja mengoceh agak suasana menjadi sedikit cair.

“Kau pernah kesini?” Tanya Luhan membuka mulut setelah hening beberapa saat.

Yoodo menggeleng pelan,namun wajahnya masih melihat kiri-kanan—merasa asing dengan tempat itu.

“Kau tahu apa yang aku suka dari tempat ini?” Tanya Luhan lagi setelah melihat Yoodo tak akan membuka mulut.Dan lagi-lagi,gadis itu menggeleng.

“Tidak ada.Tidak ada yang aku suka dari tempat ini.”

Yoodo menoleh kearahnya.Sisi samping wajah Luhan terseyum damai seraya mengadahkan wajahnya ke atas dengan mata terpejam,seakan ingin menghirup seluruh udara yang ada disana.

“Lalu..kenapa kau ada disini?”

Luhan tersenyum,lebih lebar dari sebelumnya.Akhirnya ia membuka mata dan kemudian menoleh kearah Yoodo.”Sama sepertimu,tidak ada pilihan lain.”

Yoodo terlihat tidak terlalu memikirkan jawaban Luhan,karena ia sendiri tidak tahu pilihan apa yang membuatnya ada disini.Namun lagi-lagi luhan mengeluarkan suara yang membuatnya kembali menoleh.

“Bahkan jika rumah sakit ini membuat taman rekreasi,aku tetap tidak suka.” Jawabnya dengan senyum yang masih bertengger dengan setia.Sedetik kemudian,Luhan mengeluarkan sesuatu dari kantung besar yang menempel pada baju pasien.Ada sebuah buku berukuran sedang disana dengan sampul tebal.Kemudian ia merogoh kantung yang satunya lagi,dan mengeluarkan sesuatu yang asing bagi Yoodo.

“Kau lihat ini?ini untukmu.Aku akan memberitahu bagaimana kau harus menggunakan buku ini,jadi sekarang kau harus menatap benda yang satunnya lagi dan tersenyum.Ayooo,tersenyum.1..2..3..”

JEPRETT

Sebuah kertas keluar dari benda tersebut.Yoodo menatap Luhan dengan tatapan penuh tanya.

Luhan tersenyum dan menyerahkan buku itu pada Yoodo.”Yang sedang kupegang ini namanya kamera.Benda ini dapat merekam gambar.Kau lihat ini?ini gambar kita berdua.aku terlihat tampan sekali.Tapi kau kenapa tidak tersenyum?ah sudahlah.Jadi,kau lihat foto ini?aku akan menuliskan sesuatu disini.”

Luhan segera mengeluarkan spidol kecil dan lem cair dari sakunya.Entah sebesar apa saku itu hingga ia dapat mengeluarkan begitu banyak barang.

“Luhan & Yoodo.Tidak boleh dilupakan J

Kemudian luhan melumati lem pada bagian belakang foto tersebut.

“Coba buka lembar pertama buku itu.” Yoodo membuka buku yang baru saja diberikan Luhan,mengikuti instruksi pria itu.

Luhan langsung saja menempelkan foto itu pada lembaran buku tersebut.Beberapa saat kemudian,Luhan kembali tersenyum.

“Yoodo~ya,besok ketika kau bangun,kau pasti akan mencariku.” Ujar Luhan senang.”Kau tahu,kau adalah teman pertamaku disini.Tapi aku tidak senang,karena kau tidak banyak bicara.Sebenarnya aku tidak cerewet,tapi karena kau terlalu diam,aku terkesan sangat ribut.Kau harusnya lebih banyak bicara pada temanmu ini.”

Akhirnya,Yoodo tersenyum.”Aku…harus bicara apa?”

“Katakan aku tampan,misalnya.”

“Kau tampan.”

Luhan tercengang.Gadis itu mengucapkan kata ‘tampan’ dengan senyum mengembang.Matanya yang selama ini redup,terlihat sedikit lebih bersinar.Ia terlihat lebih hidup,untuk pertama kalinya sejak 2 minggu mereka berkenalan.

“Kenapa melamun?” Yoodo menyadarkan Luhan,membuat Luhan menjadi salah tingkah dan kemudian tertawa garing.

Mata pria itu ikut tersenyum mengikuti bibirnya yang membentuk lengkungan tipis.“Kau..harus lebih banyak tersenyum Yoodo,lebih banyak lagi.”

Yoodo masuk ke ruang rawatnya setelah menghabiskan waktu seharian bersama Luhan—hingga sore hari.Ia bersikeras untuk mengantar Luhan ke ruang rawatnya terlebih dahulu dan ingin kembali sendirian.Tapi setelah Luhan masuk,ia tidak langsung kembali ke ruang rawat.Ia meneruskan kakinya menuju koridor lainnya,berjalan-jalan sejenak hingga malam.

“Yoodo~ah,kau terlihat baik hari ini.” Yoodo menoleh ke arah suara yang datang dari belakang.Ibunya baru saja keluar dari kamar mandi dan membawa beberapa selimut.Yoodo hanya diam,tidak tahu harus merespon apa pada wanita paruh baya itu.Lantas Yoodo naik ke ranjangnya,melepas lelah.

“Aku belum pernah melihatmu sebahagia tadi,ketika berada ditaman bersama temanmu.” Ucap wanita itu tersenyum.Menandakan bahwa ia melihat segala kegiatan putrinya itu.Ia mendekati Yoodo dan akhirnya duduk di pinggir ranjang.Ia mengelus rambut anak gadisnya itu dengan penuh kasih sayang.

“Ibu sangat ingin kau tersenyum seperti itu lagi besok.” Ujar wanita itu sebelum akhirnya bangkit dan mencium kening anak perempuannya.”Selamat tidur,Ibu akan kembali besok pagi.” Dan kemudian ia menghilang di balik pintu.

Seiring dengan langkah kaki Ibunya yang tak terdengar lagi,Yoodo bangkit.Ia duduk di sana dan mengambil buku yang disimpan di saku baju rawatnya.Ia membuka beberapa lembar pertama yang berisi foto tadi siang.Ada sekitar 6 foto,dan masing-masing bertuliskan kalimat pendek.Yoodo pun berhenti di foto terakhir yang bertuliskan “Yoodo beruntung sekali memiliki teman seperti pangeran”.Gadis itu tersenyum.Pikirannya melayang pada waktu yang dihabiskan bersama Luhan.Sesekali senyumnya kembali merekah ketika mengingat omongan Luhan yang panjang lebar dan kerap mengeluarkan kata-kata lucu.

Ia menghela nafas,kembali teringat akan perkataan Luhan.

“Meskipun kau akan lupa akan hari ini setelah kau tidur nanti malam,tidak apa-apa.Aku akan mengulangnya besok.”

Yoodo tidak ingin lupa.Ia tidak ingin melupakan hari ini,hari terbaiknya.Dan ia tidak ingin melupakan Luhan,teman terbaiknya.Ia tidak ingin bangun seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun.

Karena pemikiran itu,akhirnya ia bangkit untuk mengambil remote TV di atas meja.Ia berencana untuk tidak tidur malam ini.Hanya ingin tahu apakah ia bisa memiliki ingatan normal seperti orang lain esok hari.

 

To be continued..

 

Next Part

One thought on “[TwoShoot] One More Day (하루만더) Part.1

  1. Pingback: [TwoShoot] One More Day (하루만더) Part.2 (END) | LittleShade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s